Saat bayi mulai MPASI, artinya ia mulai mengenal makanan padat. Tapi perlu diingat, beberapa jenis makanan bisa memicu alergi. Kabar baiknya, penelitian menunjukkan bahwa mengenalkan beberapa jenis makanan sejak dini aman dan justru bisa membantu menurunkan risiko alergi. Meski begitu, orang tua tetap harus jeli melihat reaksi tubuh bayi.
Tanda Alergi Makanan pada Bayi
Reaksi alergi biasanya muncul beberapa menit hingga beberapa jam setelah makan. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- Gatal-gatal atau ruam kemerahan
- Pembengkakan di wajah, bibir, atau lidah
- Muntah dan diare
- Batuk, mengi, atau sesak napas
- Hingga pingsan atau hilang kesadaran
Jika muncul gejala berat, kondisi ini bisa berkembang menjadi anafilaksis, yaitu reaksi alergi serius yang berbahaya dan perlu penanganan medis segera.
Makanan yang Sering Memicu Alergi
Beberapa makanan yang umum menyebabkan alergi pada anak antara lain:
- Susu dan produk olahannya
- Telur
- Kacang-kacangan
- Kedelai
- Gandum
- Ikan, udang, dan kerang
Setiap anak bisa menunjukkan reaksi yang berbeda, ada yang ringan hanya di kulit, ada juga yang berdampak ke pencernaan, pernapasan, atau sistem peredaran darah.
Cara Mengurangi Risiko Alergi
Menyusui bayi selama 4–6 bulan dapat membantu menurunkan risiko alergi, terutama alergi susu. Saat MPASI, perkenalkan makanan satu per satu dan perhatikan reaksinya. Jika anak sudah terdiagnosis alergi, dokter biasanya akan menyarankan untuk menghindari makanan pemicu sepenuhnya.
Intinya, alergi makanan memang nggak bisa dicegah sepenuhnya, tapi bisa dikenali lebih cepat. Kalau muncul tanda mencurigakan, jangan ragu langsung konsultasi ke tenaga medis ya 👍